Kamis, 09 Maret 2017

Campus Sweet Campus

           “Huwaaaaa, ini kampus!!!” Tiga hari sudah kulalui melewati masa-masa ospek yang luar biasa melelahkan. Kalau orang lain merasa ospek sebelum kuliah iru adalah masa-masa menyeramkan, bagiku ospek tiga hari yang lalu itu bukan apa-apa karena SMA ku dulu melaksanakan MOS yang luar biasa menyeramkan dibandingkan masa ospek ku di sini. Ah iya, aku Rachel, Rachellia Putri. Dan sekarang aku sudah memasuki masa-masa tanpa seragam atau yang biasa disebut orang dengan masa kuliah. Sebulan yang lalu aku diterima di salah satu Universitas Negeri di jurusan yang memang ku harapkan, jadi wajar-wajar aja kali ya kalau aku terlalu semangat untuk memulai masa-masa kuliah ku yang katanya tidak semenyenagkan bayangan anak-anak SMA.
            Baru hari pertama aku memulai kuliah ku, aku sudah punya beberapa teman yang bisa ku ajak ngobrol. Kabar-kabar yang sering ku dengar, banyak orang yang gak nyambung ngomong sama aku karena katanya pemmikiran ku kaya alien. Hahaha aku cuma bisa ketawa mendengarnya, tapi memang sejak SMA walaupun aku selalu memiliki banyak teman tapi bukan berarti mereka adalah teman dekat ku atau bisa di bilang sahabat. Aku sulit untuk menemukan orang yang benar-benar bisa ku anggap sahabat, sampai saat ini orang yang bisa ku anggap sahabat hanya satu orang, itupun karena kami tetangga dari kecil dan entah kenapa selalu masuk sekolah yang sama bahkan kuliah pun kami masih di universitas yang sama walaupun berbeda jurusan.
            Setelah puas mengelilingi daerah baru ku, aku menyimpulkan satu hal. “DI KAMPUSKU SANGAT MINIM COGAAAAAN!!” Gimana pun aku tetap remaja berusia 18 tahun yang akan mencari cogan kemanapun aku pergi, dan sialnya kampus ku ini sepertinya bukan tempat bersarangnya para cogan. baiklah, sepertinya ada baiknya aku memikirkan teman terlebih dahulu daripada para cogan yang sepertinya pun tidak akan tertarik padaku. Aku sudah menjomblo selama 18 tahun yang artinya dari lahir sampai sekarang aku gak pernah punya pacar, jangankan pacar bahkan aku gak pernah merasa menerima pernyataan dari cowok seperti yang di alami orang-orang. Apa karena aku jelek? Di bilang jelek parah pun aku gak juga, tapi untuk di bilang cantik juga sangat jauh dari cantik tapi aku sebenarnya gak pernah peduli sama semua ini.
**
            Dua bulan aku sudah melewati masa-masa kuliah ku. Dan ternyata benar kalau kuliah itu tidak seperti bayangan ku, eh tepatnya bayangan yang seperti yang di ftv-ftv itu. Di ftv-ftv itu, anak kuliahan lebih banyak main ke mall nya dibandingin kuliah, tapi kenyataan yang kuhadapai sangat jauh berbeda. Setelah kelas aku harus mengerjakan tugas, dan bahkan aku tidak punya kesempatan untuk makan, apalagi jala-jalan ke mall sepertti yang ada di tv-tv itu. Ah sial, aku tertipu! Selama dua bulan, sudah banyak yang berubah di antara teman-teman ku. Mereka sudah punya geng-geng sendir, dan aku, aku juga udah punya geng sendiri dong. Sia, Vita, dan Ila, mereka adalah teman-teman ku saat ini dan sepertinya akan jadi sohib ku selama menjalani suka duka kehidupan perkuliahan ku.
            Mereka teman-teman yang menyenangkan, mereka menerima ku apa adanya dan tidak mempermasalahkan apapun yang ada pada diriku termasuk obrolan ku yang kata orang seperti alien. Mereka sering mengajakku belajar bersama, dan ketika kami belajar bersama kami benar-benar belajar bersama walaupun tetap saja akan dipenuhi dengan obrolan-obrolan yang memecah suasana. Tapi aku benar-benar merasa nyaman bersama, meskipun mereka suka main tapi mereka masih tetap bisa mengontrol diri untuk belajar dan melaksanakan kewajiban mereka.
            Hari ini kami memilih makan siang di McD. “Aku pengen punya pacar.” Kami membelalak pada Ila, kami sangat jarang membahas hal ini karena kami sebenarnya tidak terlelau perduli dengan hal ini. “Kenapa? Aku pengen ada yang nemenin aku, perhatiin aku, rasa nya kalau punya pacar bakal ada yang jagain kita, ya gak?” Ila melanjutkan kata-katanya.
“Iya sih, sebenarnya aku juga sering berfikit punya pacar, tapi ya gitu deh.” Akhirnya aku buka suara dan mengungkapkan hal ini.
“Ha???? Chel, kamu pengen punya pacar juga?” Mereka bertiga ini sepertinya anak kembar terpisah deh, bisa kompakan gitu ngomongnya.
“Yaiyalah, aku masih cewek oi, cewek! Aku juga naksir sama cowok lah.”
“Tapi kan chel, selama ini kalau kita cerita sedang naksir cowok kamu biasnaya Cuma dengerin.” Sia menyambut kata-kata ku.
“Kamu lagi naksir siapa?” Suara Vita menyambut. Ila daritadi hanya memandang ku dengan wajah serius, dan kelihatan sekali kalau dia sangat penasaran dengan jawaban ku.
“Aku….” Aaaaaarrrgh gimana cara ku mengakuinya ke mereka? “Suka Edgar.” Aku langsung menunduk setelah menucapkan hal ini, dan wajah ku rasanya panas, mungkin saat ini wajah ku udah seperti kepiting rebus. Iya, aku memang belakangan ini sangat suka memperhatikan Edgar teman sekelas kami dan lama-lama aku merasa sepertinya aku memang menyukainya. Edgar gak ganteng, tapi dia sangat karismatik dan selalu membuatku terpesona setiap melihatnya. Oke ini lebay.
“Chel? Kamu serius?”
“Edgar Chel? Anak kelas kita itu?”
“Kamu beneran naksir Edgar Chel? Kenapa gak pernah cerita ke kita?” Respon Vita emang selalu yang paling menenangkan dan membuatku selalu merasa nyaman.
“Aku juga baru berani bilang aku beneran suka sama dia beberapa hari ini, sebelumnya aku cuma sekedar ngeliatin dia aja.” Cuma ini yang bisa ku katakan atas pertanyaan membabi buta mereka.
“Oke, berarti sekarang kita udah tau siapa yang lagi di taksir Rachel ya gak? Dan Edgar gak jelek juga kok untuk jadi orang yang ditaksir makhluk kaya Rachel, hahahaha.” Aku sudah hamper melempar Sia pake botol di depan ku mendengar ucapannya barusan, tapi aku senang karena mereka tidak mengejek ku atau apalah itu.
***
“Nih Chel, pesanan kamu.” Dave menyerahkan roti bakar yang ku minta kemudian menarik kursi di sebelah ku dan mendudukinya. Daffa atau biasa ku panggil Dave adalah salah satu teman sekelas kami berempat, dan dia sangat dekat dengan kami berempat. Dave itu anak yang tinggi dan wajahnya manis banget, pokoknya kalian gak akan pernah bosan ngeliat muka ini anak apalagi kalau dia senyum. Kami tidak tahu sebenarnya kenapa tiba-tiba Dave jadi dekat sama kami tapi kami nyaman dengan adanya dia, karena dia suka bantuin kami juga walaupun dia bukan member official geng kami hahahaha. Kalau masalah ngumpul, Dave sih lebih sering ngumpul bareng teman-teman cowoknya, tapi kalau lagi gak ada kerjaan begini dia emang suka duduk-duduk bareng kami sekalian gangguin kami. Tiba-tiba ada chat masuk di hp ku
Chel, dosen udah masuk?
Belum gar, katanya telat 30 menit.
Oke, thanks Rachel
Sama-sama Gar
Aku langsung ngeliat keseliling nyariin Edgar. “Dave, Edgar belum datang ya?”
“Belum, kenapa?”
“Gak papa sih, dia barusan nge chat nanya dosen udah masuk atau belum. Aku gak nyadar kalau dia daritadi belum ada di kelas.”
“Oh, aku kirain kamu ada perlu apa gitu.”
Aku hanya senyum menanggapi kata-kata Dave yang terakhir. Gak berapa lama kemudian, Edgar masuk ke kelas dan langsung cari tempat duduk di belakang, saat melewati ku dia gak melihat ke arah ku sama sekali. Aku menghela nafas sambil berfikir mungkin tadi Edgar ngechat aku karena kebetulan dia ngeliat nama ku di grup kelas, emang barusan aku ngechat di grup kelas sih.
            Aku baru masuk kamar ketika ada chat masuk ke ponsel ku, aku dengan malas mengobrak-abrik isi task u mencari ponsel. “Awas aja kalau sampai ini Cuma chat oa-oa gak penting itu.” Gumam ku sambil mencari ponsel. Ketika akhirnya aku berhasil menemukan ponsel ku, jantung ku rasa nya berhenti berdegup ketika melihat isi chat tersebut. Iya ini chat dari Edgar, dan yang membuat jantung ku hampi copot adalah isi dari pesannya.
            Chel, rumah kamu jalan X no 12A kan?
    Aku beneran membeku, dan gak tau harus jawab apa. Pertama, darimana dia tau alamat rumah ku? Kedua, mau apa dia nanya-nanya masalah ini?
            Chel, jangan di read aja dong. Capek juga nih nungguin di depan rumah kamu.
            Aku langsung lari ke jendela kamar dan melihat keluar. Dan benar saja, mobil Edgar terparkir di depan sana dengan Edgar yang masih duduk di bangku pengemudi. Aku langsung merosot ke bawah, gak tau harus berbuat apa, keluar atau gimana nih? Akhirnya aku pun membalas chat Edgar.
            Aku keluar sekarang
     Ketika aku membuka pintu dan berdiri di depan rumah, Edgar langsung turun dari mobilnya dan menghampiri ku. Dia berdiri di depan ku sambil memegang buku catatan ku, kemudia dia menyerahkannya ke aku. “Aku mau balikin buku catatan kamu, tadi waktu di kampus aku lupa balikin.”
            “Kok catatan aku ada di kamu?” Jantung ku masih gak aman rasanya, dan muka ku rasanya panas sekali.
            “Kemaren aku mau minjem catatan Daffa, tapi Daffa malah kasi catatan kamu katanya lebih lengkap. Yaudah aku terima aja, waktu mau aku balikin ke Daffa katanya langsung balikin ke kamu aja. Tapi aku malah lupa kasi ke kamu tadi waktu di kampus.”
            “Oh dari Daffa ya, ngomong-ngomong kamu tau alamat aku darimana? Dari Daffa juga?” Aku gak tahan untuk menanyakan hal ini.
            “Darimana ya? Aku juga lupa, intinya aku tau alamat kamu hehehe. Eh, aku balik ya udah kesorean nih, thanks ya catatannya.”
            “Ah iya, sama-sama Gar, hati-hati ya.” Dan pada akhirnya aku gak bisa tau darimana sebenarnya Edgar mendapat alamat rumah ku.
            Pagi ini aku masuk jam 8 dan sekarang masih jam setengah tujuh ketika aku sedang sarapan. Aku memang tipe mahasiswa teladan yang datang sangat cepat ke kampus, sebenarnya bukan karena rajin tapi karena seru aja hahahaha. Lagi seru-seru nya aku mengunyah makanan sambil menonton tingkah konyol Spongebob dan Patrick, ponsel ku berbunyi menandakan adanya chat yang masuk. Aku sebenarnya malas mau buka chat itu, karena isinya pasti Sia yang nanya masuk jam berapa. Ini anak emang gak ada peduli-pedulinya deh sama kuliah. Tapi yang ku temukan bukannya chat dari Sia, tapi malah chat yang buat jantung ku olahraga pagi-pagi. Ini dari Edgar.
            5 menit lagi aku nyampe rumah kamu. Siap-siap ya.
     What? Ngapain dia ke rumah ku? Dan untuk apa aku harus siap-siap? Aku cepat-cepat mengahabiskan sarapan ku, dan menyiapkan barang bawaan ku hari ini. Belum selesai aku mengemasi barang-barang ku, aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah ku. Aku mengintip ke jendela, dan itu benar-benar mobil Edgar. Aku berlalri ke luar kamar, pamit ke mama dan pergi keluar nemuin Edgar.
            “Kamu ngapain ke sini Gar, terus pake nyuruh aku siap-siap segala lagi.”
            “Aku mau ngajak ke kampus bareng, kebetulan aku lewat sini. Kamu gak tau ya kalau rumah ku lewat sini?”
            “Ha?”
            “Udah yuk masuk, daripada kamu pegel berdiri di situ mulu.” Mau gak mau aku mengikuti kata-kata Edgar juga, lumayan kan dapat tumpangan gratis.
            Selama di perjalanan kami diam-diaman aja, Cuma jantung ku aja kaya nya yang berdegup kencang. Sampai rasa-rasanya Edgar pasti dengar suara degup jantung ku yang super duper kencang ini. Begitu memasuki daerah kampus entah kenapa  aku merasa lega karena berdua bareng Edgar gini buat aku jadi susah nafas. Tepat ketika aku keluar dari mobil Edgar, Dave juga baru keluar dari mobilnya. Dia mengerutkan keningnya melihat kea rah ku dan ke arah mobil Edgar.
            “Kamu berangkat bareng Edgar?” Aku mengangguk menanggapi pertanyaan Dave.
            “Gar, aku duluan ke kalas ya. Makasih tumpangannya.” Edgar menggangguk kecil. “Yuk ke kelas Dave.” Aku mengajak Dave ke kelas duluan sambil menarik lengannya agar bisa segera meninggal kan Edgar. Karena bahaya kalau aku terus-terusan dekat Edgar, aku bisa kena serangan jantung tiap hari.
            “Dave, jangan bilang sama Sia, Ila, dan Vita ya kalau pagi ini aku berangkat bareng Edgar.”
            “Emang kenapa?”
            “Gakpapa, aku Cuma males aja cerita hehehe. Ya dave ya, kamu genteng deh hari ini.”
            “Chel, aku emang ganteng tiap hari.” Aku memasang wajah kesal dan melepaskan pegangan ku pada lengannya. Dan Dave malah tertawa puas karena berhasil membuat ku kesal.
            Keesokan paginya, lagi-lagi Edgar datang menjemput ku untuk berangkat ke kampus. Dan lagi-lagi aku menerima begitu saja di ajak Edgar ke kampus bareng, karena ini sebenarnya sangat menguntungkan untuk ku, aku bisa menghemat ongkos ku ke kampus yang jaraknya gak bisa di bilang dekat dengan rumah ku. Lama kelamaan pulang kuliah pun aku bareng Edgar, tapi ini biasanya ketika aku lagi gak bareng Sia, Ila dan Vita. Terkadang sepulang kuliah kami mampir ke tempat makan untuk sekedar duduk-duduk dan ngemil-ngemil, walaupun Edgar anak orang kaya tapi ternyata seleranya tetap aja selera kaki lima hehehe. Aku benar-benar sangat dekat dengan Edgar sekarang, terkadang Weekend Edgar juga sering mengajak ku jalan. Nonton, makan, atau cari buku bersama, aku benar-benar merasa semakin dekat dengan Edgar.
            Kedekatan ku dengan Edgar sudah berjalan hampir lima bulan tapi aku tidak cerita hal ini kepada Sia, Ila, dan Vita. Entah kenapa aku belum siap untuk menceritakan hal ini kepada mereka, dan Dave benar-benar tidak pernah memberitahu mereka mengenai aku yang selalu berangkat kuliah bareng Edgar. Sepertinya kedekatan ku dengan Edgar memang cuma Dave yang tahu, walaupun yang dia tahu cuma sebatas kami pergi dan pulang kuliah bersama.
            Ketika hampir memasuki bulan ke enam aku dekat dengan Edgar, Edgar menyatakan perasaannya padaku. Aku gaktau haru bereaksi seperti apa, karena aku juga sanagat menyukainya apalagi setelah apa yang sudah terjadi. Akhirnya aku menerima perasaan Edgar, dan kami jadian. Edgar adalah pacar pertama ku, aku benar-benar menyayanginya karena sikap nya yang juga sangat lembut dan aku juga sudah menyadari perasaannya sebelum dia mengungkapkannya kepada ku.
            Satu bulan aku pacaran dengan Edgar, Sia, Ila, dan Vita tidak pernah tau mengenai hal ini. Aku benar-benar tidak mengerti dengan perasaan ku sendiri, aku masih saja selalu tidak siap untuk mengatakan ini kepada mereka. Untunglah Edgar setuju ketika aku mengatakan kalau kami sebaiknya tidak terlalu mengumbar-umbar hubungan kami, cukup hanya memberi tahu orang-orang terdekat kami saja.
            “Chel, ngelamun mulu! Mau makan apa kamu?” Ila menyadarkan ku dari lamunan.
            “Nasi goreng aja deh. Aku toilet bentar ya.” Aku meninggalkan mereka.
            Saat aku kembali dari toilet aku melihat mereka bertiga memandang kea rah ku, seperti sedang menunggu ku kembali, dan Sia sedang menggenggam ponsel ku. Aku tersenyum ke arah mereka dan mempercepat lagkah ku untuk segera mengetahui kenapa mereka melihat ku seperti itu. Belum sempat aku terduduk, Sia langsung bicara.
            “Chel, kamu pacaran sama Edgar?” Deg! Tubuh ku lemas mendengar pertanyaan Sia barusan.
            “Tadi Edgar nge chat nanya pulang jam berapa, kita terkejut terus langsung buka chatnya. Sorry kalau kami baca history chat kamu, tapi dari isi chat kalian, kalian kaya orang pacaran.”
            Ila langsung menjawab segala pertanyaan yang terlintas di pikiran ku, aku hanya bisa tertunduk dan tidak sanggup mau jawab apa. “Gak papa ku kalau emang iya, Cuma yang buat aku penasaran kenapa kamu gak cerita ke kita?” Tanya Vita. Aku memandang mereka satu persatu secara bergantian, aku merasa sangat bersalah dan merasa aku sangat jahat terhadap mereka.
            “Sorry aku gak pernah cerita ke kalian. Aku… Aku gaktau kenapa aku gak cerita ke kalian, setiap aku mau cerita aku langsung mengurungkan niat. Ada rasa malu, takut yang menghantui ku, sebenarnya aku juga bingung kenapa aku harus merasa malu dan takut tapi inilah yang terjadi. Maaf, Cuma itu yang bisa aku sampaikan saat ini. Kalau kalian mau marah dan merasa aku pembohong dan tidak jujur sama kalian, aku akan terima, toh ini emang salah ku.”
            “Kenapa kami harus marah? Gak ada salahnya kamu merasa kaya gitu Chel, kamu belum pernah ngerasain pacaran jadi wajar aja menurut kita kalau kamu ngerasa kaya gitu.” Ila tersenyum.
            Seorang Sia ngomong kaya gini aku merasa benar-benar lega. Kalau yang ngomong Vita mungkin aku gak akan merasa setenang ini, karena Vita emang yang paling dewasa diantara kita berempat. Tapi kalau Sia dan Ila yang ngomong, aku jadi benar-benar tersentuh.
            “Nah, sekarang buruan kasi tau kami gimana ceritanya kamu jadian sama si Edgar!!” Sia udah gak sabar untuk mendengar kisah ku
            “Ehm… Ehm… Pada suatu hari…” Aku akhirnya menceritakan bagaimana hubungan ku dengan Edgar, saat Edgar yang tiba-tiba ngechat aku, muncul di depan rumah ku, pergi dan pulang bareng ke kampus, jalan setiap weekend, dan sampai akkhirnya kami jadian. Aku benar-benar merasa plong ketika akhirnya aku bisa menceritakan semua ini kepada mereka, aku jadi menyesal kenapa tidak menceritakan pada mereka dari awal. Tapi ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur ayam, ini akan menjadi pelajaran untuk ku agar tidak menyembunyikan apapun lagi dari ketiga cewek kece-kece tapi agak gila ini.
***
            Setahun lima bulan, sudah selama ini hubungan ku dengan Edgar, dan yang mengetahui hubungan kami benar-benar hanya orang-orang terdekat kami saja. Teman-teman ku seperti Ila, Sia, Vita, dan Dave, Dave juga mengetahui hal ini karena Dave juga teman ku kan? Sedangkan sisanya teman-teman Edgar yang pastinya para cowok-cowok yang akan memutup rapat mulut mereka karena ini bukan hal yang penting bagi mereka.
            Hari ini Edgar mengajak aku ke rumahnya, katanya mama nya ingin ketemu dengan ku. Aku deg-degan setengah mati, ini lebih parah dibandingkan di panggil dosen killer untuk jawab pertanyaannya. Tapi aku tidak mungkin menolak karena ini sebenarnya sudah tiga kali Edgar mengajak ku untuk ke rumahnya. Begitu turun dari mobil aku dihadapkan dengan sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil tapi dari luar terlihat rumah ini benar-benar mewah dan elegan, sebelumnya aku sudah pernah bilang kan kalau Edgar ini anak prang kaya. Dan satu hal lagi, rumah Edgar sangat berlawanan arah dari rumah ku dan aku baru mengetahui hal ini setelah tiga bulan kami jadian. Waktu Edgar ngajak aku ke kampus bareng dengan alasan rumahnya lewat rumah ku itu hanyalah alasan untuk mengajak ku pergi bareng.
            Aku bertemu dengan mama Edgar, mama Edgar bisa di bilang masih terlihat muda walaupun sebenarnya sudah banyak kerutan di wajahnya. Wajahnya terlihat sangat ramah dan penuh kasih sayang, terlihat juga kalau dia sepertinya sangat menyayangi Edgar. Kami duduk di ruang tamu, mama Edgar duduk di sofa di depan ku dan kami hanya di batrasi oleh meja kaca dan Edgar duduk di sebelah ku. Setelah berbasa basi sedikit, tiba-tiba nada suara mama Edgar seperti berubah dan aku merasa sedikit nyaman saat memasuki percakapan ini.
            “Jadi orangtua kamu Cuma wiraswasta ya Rachel?”
            “I…iya tante”
            “Terus, apa motivasi kamu pacaran sama Edgar? Biar bisa di beliin ini itu sama Edgar!” Deg! Jantung ku rasanya berhenti  berdetak, aku merasa ini seperti di sinetron-sinetron ketika anak orang kaya pacaran sama pembokat. Dan kali ini aku adalah pemeran pembokat tersebut.
            “Ma! Mama ngomong apa sih?” Edgar menjawab pernyataan mama nya.
            Mama Edgar mengabaikan kata-kata Edgar dan terus menatap ke arah ku. Aku tidak tau harus berkata apa, jadi aku hanya menunduk dan wajah ku rasanya sudah sangat panas. “Kalau pacaran sama Edgar kamu bisa pergi pulang kuliah naik mobil, gak perlu angkutan umum. Kamu juga bisa jalan-jalan ke mall terus-terusan, dan mungkin Edgar juga akan belikan kamu bermacam-macam kan.”
            Wajah ku semakin panas, air mata ku sudah ingin membludak rasanya. Aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali, aku tau Edgar orang kaya tapi aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali toh selama ini sebelum aku mengenal Edgar aku juga tetap bisa hidup tenang. Aku bahkan tidak menyangka kalau mama Edgar akan bereaksi seperti ini, ku pikir hal seperti ini hanya terjadi di sinetron dan drama-drama korea tapi ternyata hal ini sedang ku hadapi di dunia nyata.
            “M, ini udah keterlaluan! Apa-apaan Mama ngomong kaya gitu ke Rachel.” Edgar bergerak pindah ke samping Mama nya dan terus berbicara yang sudah tidak bisa ku dengar kan dengan baik lagi. Mama Edgar masih saja mengabaikannya, dan terus berbicara kepada ku.
            “Kenapa diam? Kalau kamu diam aja berarti benar ya yang Tante sebutin tadi.” Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Aku mengangkat kepala ku dan akhirnya mengeluarkan suara ku.
            “Iya tante.” Aku melihat Edgar tersentak. “Dekat dengan Edgar adalah anugrah untuk saya, saya punya tumpangan gratis yang nyaman dan bisa dapat apapun yang saya mau dari Edgar.”Aku tersenyum kemudian melanjutkan “Feeling seorang ibu memang selalu benar mengenai anaknya, Tante benar-benar sayang sekali kepada Edgar ya.”
            Aku berdiri “Terima kasih atas waktunya Tante, maaf kalau saya mengganggu Tante. Dan saya juga minta maaf karena saya sangat tidak sopan.” Aku membungkukkan badan ku, mengucap kan selamat tinggal dan kemudian memutar tubuh ku untuk keluar dan segera meninggalkan rumah ini. Aku benar-benar tidak tahu apa yang telah ku lakukan, kalau setelah ini Edgar pun akan membenci ku aku sudah siap untuk menerimanya. Bahkan mungkin akan lebih baik. Tapi ternyata dugaan ku salah, saat aku sudah sampai halaman rumah Edgar, Edgar menarik lengan ku dan aku bisa melihat wajah nya yang sudah sangat merah seperti menahan amarah.
            “Apa yang kamu lakukan? Aku tau kamu gak mungkin kaya gitu, aku tau kamu bukan tipe cewek yang memikirkan harta Rachel. Kenapa kamu membenarkan semua kata-kata Mamaku!”
            Air mata ku akhirnya menetes. “Darimana kamu tau kalau aku tidak seperti itu Gar? Lagipula Mama mu melakukan itu karena dia sayang sama kamu, dia takut kalau anaknya akan dimanfaatkan orang.”
            “Satu tahun lebih aku bersama kamu, kamu pikir itu waktu yang singkat untuk aku tau gimana kamu. Aku memang gak punya bukti kalau kamu bukan orang seperti itu, kalau kamu memang orang yang seperti mungkin aku udah mutusin kamu dari jauh-jauh hari. Dan aku gak pernah merasa kamu memanfaatkan aku, Mama ku cuma belum kenal sama kamu Rachel. Lagipula kenapa kamu bia runtuh hanya karena kata-kata itu Rachel.”
            Aku melapaskan cengkeraman tangan Edgar sambil berkata “Tapi sebaiknya kita udahan sampai sini aja Gar, masih banyak cewek yang bisa dampingin kamu dan mungkin bisa menghadapi dan mendapatkan hati Mama kamu.” Aku melangkah meningglkan halaman rumah Edgar.
            “Gak, aku gak pernah mau udahan sama kamu. Dan kamu mau kemana? Kalau kamu mau pulang, aku antar.”
            “Gak perlu Gar, aku bisa pulang sendiri. Tempat ku angkutan umum, bukan mobil mewah kamu.” Aku gak tau kenapa aku bisa sebaper ini, aku mendengar Edgar sangat marah dan membanting sesuatu tapi aku tidak berniat untuk balik badan. Dan lagipula ini berarti kami putus kan. Air mata ku masih terus mengalir, dan wajah ku terasa sangat panas. Saat tiba di rumah, aku melihat Dave sedang duduk di depan rumah ku, aku baru ingat kalau Dave mau datang minjem buku ku untuk mengerjakan tugas. Begitu melihat ku Dave langsung berlari ke hadapan ku, dia meletakkan kedua tangannya di wajah ku.
            “Kamu kenapa? Edgar mana? Bukannya kamu pergi bareng Edgar?”
            “Kamu mau pinjem buku kan? Bentar ya Dave aku ambil dulu ke dalam, kamu juga masuk dulu ke dalam yuk kamu pasti capek ya nunggu aku di situ. Maaf ya Dave aku pulang kelamaan.” Aku mengabaikan pertanyaan Dave, dan ingin berjalan menuju pintu rumah. Saat aku mulai bergerak, Dave langsung memeluk tubuh ku.
            “Kenapa? Kamu ada masalah sama Edgar? Cerita aja ke aku, aku bakalan dengerin kamu.” Air mata ku mengalir lagi dan membasahi baju Dave, tapi ini benar-benar terasa nyaman. Dave diam saja dan tetap memeluk erat tubuh ku ketika aku akhirnya mengeluarkan tangisan yang sudah ku tahan daritadi. Dave benar-benar sahabat terbaik ku. Dave mengajakku masuk ke rumah, dan akhirnya aku menceritakan semuanya kepada Dave. Aku gaktau apa yang akan terjadi kalau hari ini tidak ada Dave di sisi ku, aku benar-benar sangat berterimakasih kepadanya.
***
5 Tahun Kemudian
            Sudah lima tahun berlalu sejak hari itu, hari dimana aku emmberinya julukan hari terburuk selama hidupku. Aku sudah menyelesaikan kuliah ku dan sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan ternama, walaupun pangkat ku belum tinggi-tinggi banget tapi aku sudah bisa memenuhi kebutuhan ku dan bahkan membantu kedua orangtua ku juga. Aku masih dekat dengan tiga teman-teman ku, Ila, Sia, dan Vita. Sia dan Ila sudah menikah dan bahkan punya anak, aku dan Vita masih merasa sendiri lebih menyenangkan karena tidak banyak beban yang harus kami tanggung. Vita melanjutkan bisnis keluarganya dan sangat sukses sekarang, walaupun kami sudah tidak bisa selalu bersama syukurnya kami masih sering berkumpul bersama minimal dua minggu sekali lah.
            Dave? Dave emang dasarnya punya perusahaan yang pasti akan di wariskan kepadanya, jadi saat ini dia sibuk dengan perusahaannya. Dave masih sering menghubungi ku dan mengajak main bersama Ila, Sia, dan Vita. Sejak hari itu, aku jadi semakin dekat dengan Dave dan kami jadi semakin sering menghabiskan waktu bersama. Tapi ini benar-benar masih dalam batas pertemanan, karena bagiku Dave memang teman yang sangat menyenangkan sama seperti ketika aku bersama tiga ciwi-ciwi rempong itu. Dave juga menganggap ku seperti itu, aku masih merupakan teman terbaiknya apalagi sejak hari itu. Sejak hari itu, Dave lah yang paling banyak membantu ku keluar dari rasa terpuruk ku dan membantu ku untuk tidak mengingat-mengingat hal itu lagi. Ah iya, akhirnya Dave sekarang punya pacar. Meskipun banyak cewek yang suka sama dia, Dave sering sekali mengabaikan mereka karena alasan gak mau ganggu kuliah, dan benar saja setelah lulus kuliah dia langsung punya pacar yang menurut ku sudah di sukainya sejak lama.
            Aku sendiri sejak hari itu tidak pernah memulai hubungan dengan siapa-siapa lagi, jangan kan untuk pacaran untuk sekedar dekat pun tidak pernah. Aku masih merasa kecewa, dan sebenarnya aku masih sangat menyayangi Edgar bahkan sampai saat ini. Putusnya hubungan kami bukan karena ada maslaah diantara kami, jadi terkadang aku masih berharap bisa kembali lagi bersama Edgar walaupun hal itu sangat tidak mungkin terjadi sepertinya. Sebenarnya Edgar sudah menjelaskan berulang kali kepada ku dan meminta untuk kembali, tapi aku masih belum siap untuk semua ini dan memilih untuk tidak melanjutkan lagi hubungan kami. Sejak berakhirnya hubungan kami jangan tanya Edgar, dia sudah berulang kali berganti-ganti pacar, dan sebenarnya hal ini sangat memukul ku karena ku pikir Edgar masih menyayangi ku seperti aku yang masih sanagat mengharapkannya tapi sepertinya aku hanya bisa menerima kenyataan.
            “Daffa mana sih? Kemaren katanya mau datang, tapi udah hampir satu jam dia belum datang-datang juga.” Ila mengeluh karena Dave tidak juga kunjung datang.
            “Aku lapar tolong seseorang hubungi Daffa dan suruh dia cepat ke sini.” Sia juag sudah mengomel.
            “Sabar dong, kalian kan tau sendiri Daffa sibuk. Konsekuensi kita dong harus ngajak orang sibuk itu ngumpul padahal dia udah bilang kalau dia gak bisa datang tepat waktu.”
            “Ah, itu Dave.” Belum kering bibir Vita ceramah, Dave sudah muncul di pintu café masih dengan pakaian kerjanya. Dave duduk di bangku kosong di sebelah Vita dan senyum-senyum gak jelas, yang kami semua pahami dia merasa bersalah karena telat terlalu lama. Kami pun akhirnya memanggil pelayam café yang daritadi udah bosan melihat kami duduk di sini tapi gak mesan-mesan makanan juga. Setelah selesai memesan makanan, Sia mengeluarkan ponselnya dan melihat sesuatu di ponselnya yang sama membuatnya hampir teriak sekencang-kencangnya.
            “Guys, angkatan kita mau ngajak ngumpul di café Y minggu depan, ikut yuk. Aku pengen ketemuan sama mereka lagi.” Celetuk Sia.
            “Boleh yuk.” Aku, Vita dan Ila menjawab dengan semangat.
            “Jam berapa?” Mr. Busy satu ini langsung menanyakan waktu.
            “Malam kok daf, bisa lah kamu datang kan kamu udah pulang kerja.” Sia menjawab
            “Oke, setuju.”
            Aku baru turun dari mobil Vita ketika aku melihat Edgar berdiri di depan rumah ku. Mata ku membelalak melihat siapa yang sedang berdiri di sana, dan masih berusaha meyakinkan kalau itu benar-benar Edgar. Begitu melihat ku, Edgar langsung menghampiri ku dan memeluk ku. Aku terkejut, sangat terkejut sampai aku tidak tau harus berbuat apa. Aku hanya mematung dan tidak melakukan apa-apa di dalam pelukan Edgar, dan sebenarnya aku merindukan pelukan ini.
            “Aku kangen sama kamu Chel, aku gak tahan harus terus begini.” Ingin rasanya aku mengatakan kalau aku juga merindukannya tapi bibir ku tidak sanggup bergerak, dan hati ku juga seperti menyuruhku untuk tidak mengucapkannya. Edgar melepaskan pelukannya.
            “Aku masih sangat sayang sama kamu Chel, selama ini aku gonta-ganti pacar untuk bisa melupakan kamu tapi ternyata aku tetap tidak bisa melupakan kamu. Kamu masih terus terlintas di pikiran ku, kenangan-kenangan ku sama kamu gak pernah bisa aku lupakan.”
            Air mata ku menetes tanpa ku sadari.
            “Kemarin aku bicara sama Mama ku mengenai kamu, karena aku udah gak tahan Chel aku gak tahan harus terus jauh-jauhan sama kaya gini. Aku perang besar sama Mama kemarin, aku ceritakan semua nya tentang kamu. Dan kamu tau” Edgar meletakkan kedua telapak tangannya di pipiku. “Mama ku akhirnya menerima kamu Chel, dia merestui kita.” Edgar tersenyum lebar.
            “Se..rius?” Akhirnya aku berhasil mengeluarkan sesuatu dari bibirku. Dan air mataku mengalir sederas-derasnya. Edgar memelukku kembali sambil mengatakan “Serius, sangat serius. Besok malam aku sama keluarga mau ngelamar kamu, kamu mau kan nikah sama aku?”
            Ku lepaskan pelukan Edgar, dan kutatap matanya untuk melihat apakah ada kebohongan di matanya. Tapi yang ketemukan hanya ketulusan, dia benar-benar tulus mengatakan ini. Aku kembali memeluk Edgar.
            “Aku mau Gar, selama ini aku berharap aku bisa kembali sama kamu. Tapi aku pikir itu hal yang mustahil, karena aku juga sering melihat mu gonta ganti pacar.” Aku benar-benar tidak berniat jual mahal kali ini, aku sangat menyayangi Edgar dan aku sudah lama mengharapkan hal ini terjadi. Edgar mengecup lembut kepala ku setelah aku selesai bicara.
            Esok malamnya, keluarga Edgar benar datang untuk melamarku. Mama dan Papanya datang ke rumah ku. Mama Edgar meminta maaf pada ku atas apa yang telah terjadi dulu, dan sekarang dia terlihat seperti menganggapn aku anak kandungnya. Aku dan Edgar benar-benar akan menikah, tapi kami belum menentukan kapan. Yang pasti kami akan menikah pada tahun ini. Sekarang kami punya couple ring, dan aku sangat suka melihat cincin ini. Aku seperti melihat Edgar setiap melihat cincin itu terlingkar di jariku. Kami sengaja merahasiakan hal ini dari teman-teman kami, dan kami berencana untuk mengumumkan hal ini saat kumpul angkatan minggu depan. Aku tidak sabar melihat ekspresi Sia, Ila, Vita, dan Dave.
***
Daffa POV
            Aku sedang berjalan sendirian di mall, dan aku melihat sebuah toko perhiasan. Entah apa yang membawa kakiku melangkah masuk ke toko ini, dan aku melihat banyak cincin yang indah. Aku berpikir apa aku beli saja cincin ini. Tapi untuk apa? Wajah Rachel muncul di kepala ku, aku memang sangat menyukainya  bahkan jauh sebelum Rachel dekat dengan Edgar. Aku pacaran dengan orang lain hanya untuk membuat Rachel merasa nyaman berteman dengan ku, tapi pun sekarang aku sudah putus dengan pacar ku karena aku memang tidak menyayanginya dan selalu memikirkan Rachel. Akhirnya ku putuskan untuk membeli satu buah cincin, dan akan melamarnya pada saat kumpul angkatan nanti. Aku akan mengungkapkan apa yang telah ku pendam selama ini kepada Rachel, dan mengajaknya untuk menikah.
            “Mbak, boleh lihat yang ini.”
            “Silahkan mas.” Dia memberikan cincin itu kepadaku.
            “Saya ambil yang ini mbak.”
***
Rachel POV
            Akhirnya malam ini tiba, aku tidak sabar akan berkumpul dengan teman-teman kuliah ku lagi. Belum selesai aku bersiap, suara mobil Edgar sudah terdengar di depan rumahku. Aku buru-buru menyiapkan barang-barang ku dan langsung berlari keluar menemui Edgar, kasian dia kelamaan nunggu. Aku turun dari mobil Edgar setelah melihat sekeliling, berjaga-jaga manatau ada yang melihatku turun dari mobil Edgar. Kamu masuk ke café secara terpisah, dan ketika aku masuk aku melihat Ila, Sia, Vita dan bahkan Dave sudah di sana. Aku langsung berlari menemui mereka dan ikut mengobrol dengan teman-teman yang lain.
            Ketika aku lagi ngobrol sama teman-teman ku dan juga beberapa teman Edgar, Edgar datang dan begabung bersama kami. Sia, Ila, dan Vita langsung melihat ke arah ku, aku tau apa yang mereka pikirkan dan aku hanya tersenyum ke arah mereka.
            “Perhatian bentar dong, aku mau ngomong sesuatu.” Edgar angkat bicara, dan aku tau apa tujuan Edgar. Edgar menarik ku dan menunjukkan jari ku kepada mereka semua. “Kami akan menikah.” Edgar tersenyum sangat lebar, aku pun ikut tersenyum tapi aku langsung menundukkan kepala ku karena merasa sangat malu. Teman-teman ku langsung memelukku dan terus bertanya benarkah yang di katakana Edgar, dan yang bisa kulakukan hanya mengiyakannya karena memang inilah kenyataannya. Aku sempat melihat ke arah Edgar, dan teman-temannya pun sibuk memberikan selamat kepadanya. Sia, Ila, dan Vita terlihat sangat bahagia dengan kabar yang baru mereka dengar, aku memeluk mereka kembali dan mengucapkan banyak terimakasih atas apa yang telah mereka lakukan kepada ku selama ini. Mereka pun tak henti-hentinya mengucapkan selamat kepadaku.
            “Dave mana?” Aku baru menyadari kalau aku tidak melihat Dave daritadi. Padahal aku merasa melihat Dave saat Edgar bicara tadi.
            “Loh, mana ya? Tadi di sini kok, toilet kali ya.” Vita menjawab pertanyaan ku.
            “Aku cari Dave dulu ya.” Aku meninggalkan mereka dan mencari Dave. Aku ingin memastikan Dave mendengar kabar ini, dan menjelaskan apa yang telah terjadi sampai aku dan Edgar mau menikah begini. Dave adalah orang yang paling tau mengenai hubungan ku dengan Edgar, dan dia juga lah orang yang selalu berada di sisiku ketika aku kehilangan Edgar. Aku tidak mau jadi teman yang hanya bersamanya ketika aku sedang ada masalah, ketika sedang bahagia pun aku ingin Dave ada di sisiku turut merasakan kebahagiaan yang sedang ku rasakan. Dari jauh aku melihat Dave baru keluar dari toilet, ternyata benar dia tadi ke toilet.
            “Dave, aku daritadi cariin kamu.”
            “Sorry, aku tadi kebelet jadi langsung lari ke toilet hehe.” Dave mengusap kepala ku.
            “Kamu dengar yang di bilang Edgar tadi kan Dave?”
            “Dengar dong, congrats ya!”
            “Makasih ya Dave, kamu terus nemenin aku selama ini. Dengerin semua keluh kesah ku.”
            “Kamu gak perlu berterimakasih, itu emang tugas teman kan?” Edgar mengedipkan sebelah matanya. Aku memeluk Dave dan Dave membalas pelukan ku lembut. Aku benar-benar senang saat ini, aku akhirnya akan menikah sama Edgar dan aku punya Sia, Ila, Vita, dan Dave di sisiku. Yang selalu mendukung ku dan mmeberi semangat kepada ku. ini benar-benar malam yang indah.
***
Dave POV

            “Kami akan menikah.” Kata-kata itu, wajah Rachel dan Edgar, suasana di café, masih terus terbayang di kepala ku. Aku ingin marah, tapi aku tidak punya hak untuk marah dan tidak ada juga alasan ku untuk marah. Seharusnya aku senang, seharusnya aku bahagia melihat Rachel akhirnya bisa bersama Edgar. Aku merogoh saku ku dan mengeluarkan kotak cincin yang seharusnya ku berikan kepada Rachel malam ini, aku membaringkan tubuh ku di atas kasur sambil memegang cincin ini. Untung saja aku belum sempat memberikan cincin ini dan mengungkapkan perasaan ku pada Rachel, dan sebaiknya Rachel tidak perlu tahu semua ini. Cincin ini akan terus ku simpan, dan akan menjadi saksi bisu akan perasaan ku pada Rachel.

-END-



Ini tulisan pertama saya yang saya publikasikan, maaf kalau sangat banyak kekurangan dan garing. Kritik dan saran boleh ditinggalin di comment ^^
Terimakasih sudah membaca

1 komentar:

  1. Lanjut chapter 2 la..
    Rachel dan dave selingkuh wkwk

    BalasHapus