“Huwaaaaa, ini kampus!!!” Tiga hari
sudah kulalui melewati masa-masa ospek yang luar biasa melelahkan. Kalau orang
lain merasa ospek sebelum kuliah iru adalah masa-masa menyeramkan, bagiku ospek
tiga hari yang lalu itu bukan apa-apa karena SMA ku dulu melaksanakan MOS yang
luar biasa menyeramkan dibandingkan masa ospek ku di sini. Ah iya, aku Rachel,
Rachellia Putri. Dan sekarang aku sudah memasuki masa-masa tanpa seragam atau
yang biasa disebut orang dengan masa kuliah. Sebulan yang lalu aku diterima di
salah satu Universitas Negeri di jurusan yang memang ku harapkan, jadi
wajar-wajar aja kali ya kalau aku terlalu semangat untuk memulai masa-masa
kuliah ku yang katanya tidak semenyenagkan bayangan anak-anak SMA.
Baru hari pertama aku memulai kuliah
ku, aku sudah punya beberapa teman yang bisa ku ajak ngobrol. Kabar-kabar yang
sering ku dengar, banyak orang yang gak nyambung ngomong sama aku karena
katanya pemmikiran ku kaya alien. Hahaha aku cuma bisa ketawa mendengarnya,
tapi memang sejak SMA walaupun aku selalu memiliki banyak teman tapi bukan
berarti mereka adalah teman dekat ku atau bisa di bilang sahabat. Aku sulit
untuk menemukan orang yang benar-benar bisa ku anggap sahabat, sampai saat ini
orang yang bisa ku anggap sahabat hanya satu orang, itupun karena kami tetangga
dari kecil dan entah kenapa selalu masuk sekolah yang sama bahkan kuliah pun
kami masih di universitas yang sama walaupun berbeda jurusan.
Setelah puas mengelilingi daerah
baru ku, aku menyimpulkan satu hal. “DI KAMPUSKU SANGAT MINIM COGAAAAAN!!”
Gimana pun aku tetap remaja berusia 18 tahun yang akan mencari cogan kemanapun
aku pergi, dan sialnya kampus ku ini sepertinya bukan tempat bersarangnya para
cogan. baiklah, sepertinya ada baiknya aku memikirkan teman terlebih dahulu
daripada para cogan yang sepertinya pun tidak akan tertarik padaku. Aku sudah
menjomblo selama 18 tahun yang artinya dari lahir sampai sekarang aku gak
pernah punya pacar, jangankan pacar bahkan aku gak pernah merasa menerima
pernyataan dari cowok seperti yang di alami orang-orang. Apa karena aku jelek?
Di bilang jelek parah pun aku gak juga, tapi untuk di bilang cantik juga sangat
jauh dari cantik tapi aku sebenarnya gak pernah peduli sama semua ini.
**
Dua bulan aku sudah melewati
masa-masa kuliah ku. Dan ternyata benar kalau kuliah itu tidak seperti bayangan
ku, eh tepatnya bayangan yang seperti yang di ftv-ftv itu. Di ftv-ftv itu, anak
kuliahan lebih banyak main ke mall nya dibandingin kuliah, tapi kenyataan yang
kuhadapai sangat jauh berbeda. Setelah kelas aku harus mengerjakan tugas, dan
bahkan aku tidak punya kesempatan untuk makan, apalagi jala-jalan ke mall
sepertti yang ada di tv-tv itu. Ah sial, aku tertipu! Selama dua bulan, sudah
banyak yang berubah di antara teman-teman ku. Mereka sudah punya geng-geng
sendir, dan aku, aku juga udah punya geng sendiri dong. Sia, Vita, dan Ila,
mereka adalah teman-teman ku saat ini dan sepertinya akan jadi sohib ku selama
menjalani suka duka kehidupan perkuliahan ku.
Mereka teman-teman yang
menyenangkan, mereka menerima ku apa adanya dan tidak mempermasalahkan apapun
yang ada pada diriku termasuk obrolan ku yang kata orang seperti alien. Mereka
sering mengajakku belajar bersama, dan ketika kami belajar bersama kami
benar-benar belajar bersama walaupun tetap saja akan dipenuhi dengan
obrolan-obrolan yang memecah suasana. Tapi aku benar-benar merasa nyaman
bersama, meskipun mereka suka main tapi mereka masih tetap bisa mengontrol diri
untuk belajar dan melaksanakan kewajiban mereka.
Hari ini kami memilih makan siang di
McD. “Aku pengen punya pacar.” Kami membelalak pada Ila, kami sangat jarang
membahas hal ini karena kami sebenarnya tidak terlelau perduli dengan hal ini.
“Kenapa? Aku pengen ada yang nemenin aku, perhatiin aku, rasa nya kalau punya
pacar bakal ada yang jagain kita, ya gak?” Ila melanjutkan kata-katanya.
“Iya sih, sebenarnya aku juga sering berfikit punya pacar,
tapi ya gitu deh.” Akhirnya aku buka suara dan mengungkapkan hal ini.
“Ha???? Chel, kamu pengen punya pacar juga?” Mereka bertiga
ini sepertinya anak kembar terpisah deh, bisa kompakan gitu ngomongnya.
“Yaiyalah, aku masih cewek oi, cewek! Aku juga naksir sama
cowok lah.”
“Tapi kan chel, selama ini kalau kita cerita sedang naksir
cowok kamu biasnaya Cuma dengerin.” Sia menyambut kata-kata ku.
“Kamu lagi naksir siapa?” Suara Vita menyambut. Ila
daritadi hanya memandang ku dengan wajah serius, dan kelihatan sekali kalau dia
sangat penasaran dengan jawaban ku.
“Aku….” Aaaaaarrrgh gimana cara ku mengakuinya ke mereka?
“Suka Edgar.” Aku langsung menunduk setelah menucapkan hal ini, dan wajah ku
rasanya panas, mungkin saat ini wajah ku udah seperti kepiting rebus. Iya, aku
memang belakangan ini sangat suka memperhatikan Edgar teman sekelas kami dan
lama-lama aku merasa sepertinya aku memang menyukainya. Edgar gak ganteng, tapi
dia sangat karismatik dan selalu membuatku terpesona setiap melihatnya. Oke ini
lebay.
“Chel? Kamu serius?”
“Edgar Chel? Anak kelas kita itu?”
“Kamu beneran naksir Edgar Chel? Kenapa gak pernah cerita
ke kita?” Respon Vita emang selalu yang paling menenangkan dan membuatku selalu
merasa nyaman.
“Aku juga baru berani bilang aku beneran suka sama dia
beberapa hari ini, sebelumnya aku cuma sekedar ngeliatin dia aja.” Cuma ini
yang bisa ku katakan atas pertanyaan membabi buta mereka.
“Oke, berarti sekarang kita udah tau siapa yang lagi di
taksir Rachel ya gak? Dan Edgar gak jelek juga kok untuk jadi orang yang
ditaksir makhluk kaya Rachel, hahahaha.” Aku sudah hamper melempar Sia pake
botol di depan ku mendengar ucapannya barusan, tapi aku senang karena mereka
tidak mengejek ku atau apalah itu.
***
“Nih Chel, pesanan kamu.” Dave menyerahkan roti bakar yang
ku minta kemudian menarik kursi di sebelah ku dan mendudukinya. Daffa atau
biasa ku panggil Dave adalah salah satu teman sekelas kami berempat, dan dia
sangat dekat dengan kami berempat. Dave itu anak yang tinggi dan wajahnya manis
banget, pokoknya kalian gak akan pernah bosan ngeliat muka ini anak apalagi
kalau dia senyum. Kami tidak tahu sebenarnya kenapa tiba-tiba Dave jadi dekat
sama kami tapi kami nyaman dengan adanya dia, karena dia suka bantuin kami juga
walaupun dia bukan member official geng kami hahahaha. Kalau masalah ngumpul,
Dave sih lebih sering ngumpul bareng teman-teman cowoknya, tapi kalau lagi gak
ada kerjaan begini dia emang suka duduk-duduk bareng kami sekalian gangguin
kami. Tiba-tiba ada chat masuk di hp ku
Chel, dosen udah masuk?
Belum gar, katanya telat 30 menit.
Oke, thanks Rachel
Sama-sama Gar
Aku langsung ngeliat keseliling nyariin
Edgar. “Dave, Edgar belum datang ya?”
“Belum, kenapa?”
“Gak papa sih, dia barusan nge chat
nanya dosen udah masuk atau belum. Aku gak nyadar kalau dia daritadi belum ada
di kelas.”
“Oh, aku kirain kamu ada perlu apa
gitu.”
Aku hanya senyum menanggapi kata-kata
Dave yang terakhir. Gak berapa lama kemudian, Edgar masuk ke kelas dan langsung
cari tempat duduk di belakang, saat melewati ku dia gak melihat ke arah ku sama
sekali. Aku menghela nafas sambil berfikir mungkin tadi Edgar ngechat aku
karena kebetulan dia ngeliat nama ku di grup kelas, emang barusan aku ngechat
di grup kelas sih.
Aku baru masuk kamar ketika ada chat
masuk ke ponsel ku, aku dengan malas mengobrak-abrik isi task u mencari ponsel.
“Awas aja kalau sampai ini Cuma chat oa-oa gak penting itu.” Gumam ku sambil
mencari ponsel. Ketika akhirnya aku berhasil menemukan ponsel ku, jantung ku
rasa nya berhenti berdegup ketika melihat isi chat tersebut. Iya ini chat dari
Edgar, dan yang membuat jantung ku hampi copot adalah isi dari pesannya.
Chel, rumah kamu
jalan X no 12A kan?
Aku
beneran membeku, dan gak tau harus jawab apa. Pertama, darimana dia tau alamat
rumah ku? Kedua, mau apa dia nanya-nanya masalah ini?
Chel, jangan di
read aja dong. Capek juga nih nungguin di depan rumah kamu.
Aku langsung lari ke jendela kamar
dan melihat keluar. Dan benar saja, mobil Edgar terparkir di depan sana dengan Edgar
yang masih duduk di bangku pengemudi. Aku langsung merosot ke bawah, gak tau
harus berbuat apa, keluar atau gimana nih? Akhirnya aku pun membalas chat
Edgar.
Aku keluar sekarang
Ketika
aku membuka pintu dan berdiri di depan rumah, Edgar langsung turun dari
mobilnya dan menghampiri ku. Dia berdiri di depan ku sambil memegang buku
catatan ku, kemudia dia menyerahkannya ke aku. “Aku mau balikin buku catatan
kamu, tadi waktu di kampus aku lupa balikin.”
“Kok catatan aku ada di kamu?”
Jantung ku masih gak aman rasanya, dan muka ku rasanya panas sekali.
“Kemaren aku mau minjem catatan
Daffa, tapi Daffa malah kasi catatan kamu katanya lebih lengkap. Yaudah aku
terima aja, waktu mau aku balikin ke Daffa katanya langsung balikin ke kamu
aja. Tapi aku malah lupa kasi ke kamu tadi waktu di kampus.”
“Oh dari Daffa ya, ngomong-ngomong
kamu tau alamat aku darimana? Dari Daffa juga?” Aku gak tahan untuk menanyakan
hal ini.
“Darimana ya? Aku juga lupa, intinya
aku tau alamat kamu hehehe. Eh, aku balik ya udah kesorean nih, thanks ya
catatannya.”
“Ah iya, sama-sama Gar, hati-hati
ya.” Dan pada akhirnya aku gak bisa tau darimana sebenarnya Edgar mendapat
alamat rumah ku.
Pagi ini aku masuk jam 8 dan
sekarang masih jam setengah tujuh ketika aku sedang sarapan. Aku memang tipe
mahasiswa teladan yang datang sangat cepat ke kampus, sebenarnya bukan karena
rajin tapi karena seru aja hahahaha. Lagi seru-seru nya aku mengunyah makanan
sambil menonton tingkah konyol Spongebob dan Patrick, ponsel ku berbunyi
menandakan adanya chat yang masuk. Aku sebenarnya malas mau buka chat itu,
karena isinya pasti Sia yang nanya masuk jam berapa. Ini anak emang gak ada
peduli-pedulinya deh sama kuliah. Tapi yang ku temukan bukannya chat dari Sia,
tapi malah chat yang buat jantung ku olahraga pagi-pagi. Ini dari Edgar.
5 menit lagi aku nyampe rumah kamu. Siap-siap ya.
What?
Ngapain dia ke rumah ku? Dan untuk apa aku harus siap-siap? Aku cepat-cepat
mengahabiskan sarapan ku, dan menyiapkan barang bawaan ku hari ini. Belum
selesai aku mengemasi barang-barang ku, aku mendengar suara mobil berhenti di
depan rumah ku. Aku mengintip ke jendela, dan itu benar-benar mobil Edgar. Aku
berlalri ke luar kamar, pamit ke mama dan pergi keluar nemuin Edgar.
“Kamu ngapain ke sini Gar, terus
pake nyuruh aku siap-siap segala lagi.”
“Aku mau ngajak ke kampus bareng,
kebetulan aku lewat sini. Kamu gak tau ya kalau rumah ku lewat sini?”
“Ha?”
“Udah yuk masuk, daripada kamu pegel
berdiri di situ mulu.” Mau gak mau aku mengikuti kata-kata Edgar juga, lumayan
kan dapat tumpangan gratis.
Selama di perjalanan kami
diam-diaman aja, Cuma jantung ku aja kaya nya yang berdegup kencang. Sampai
rasa-rasanya Edgar pasti dengar suara degup jantung ku yang super duper kencang
ini. Begitu memasuki daerah kampus entah kenapa aku merasa lega karena berdua bareng Edgar
gini buat aku jadi susah nafas. Tepat ketika aku keluar dari mobil Edgar, Dave
juga baru keluar dari mobilnya. Dia mengerutkan keningnya melihat kea rah ku
dan ke arah mobil Edgar.
“Kamu berangkat bareng Edgar?” Aku
mengangguk menanggapi pertanyaan Dave.
“Gar, aku duluan ke kalas ya.
Makasih tumpangannya.” Edgar menggangguk kecil. “Yuk ke kelas Dave.” Aku
mengajak Dave ke kelas duluan sambil menarik lengannya agar bisa segera
meninggal kan Edgar. Karena bahaya kalau aku terus-terusan dekat Edgar, aku
bisa kena serangan jantung tiap hari.
“Dave, jangan bilang sama Sia, Ila,
dan Vita ya kalau pagi ini aku berangkat bareng Edgar.”
“Emang kenapa?”
“Gakpapa, aku Cuma males aja cerita
hehehe. Ya dave ya, kamu genteng deh hari ini.”
“Chel, aku emang ganteng tiap hari.”
Aku memasang wajah kesal dan melepaskan pegangan ku pada lengannya. Dan Dave
malah tertawa puas karena berhasil membuat ku kesal.
Keesokan paginya, lagi-lagi Edgar
datang menjemput ku untuk berangkat ke kampus. Dan lagi-lagi aku menerima
begitu saja di ajak Edgar ke kampus bareng, karena ini sebenarnya sangat
menguntungkan untuk ku, aku bisa menghemat ongkos ku ke kampus yang jaraknya
gak bisa di bilang dekat dengan rumah ku. Lama kelamaan pulang kuliah pun aku
bareng Edgar, tapi ini biasanya ketika aku lagi gak bareng Sia, Ila dan Vita.
Terkadang sepulang kuliah kami mampir ke tempat makan untuk sekedar duduk-duduk
dan ngemil-ngemil, walaupun Edgar anak orang kaya tapi ternyata seleranya tetap
aja selera kaki lima hehehe. Aku benar-benar sangat dekat dengan Edgar
sekarang, terkadang Weekend Edgar juga sering mengajak ku jalan. Nonton, makan,
atau cari buku bersama, aku benar-benar merasa semakin dekat dengan Edgar.
Kedekatan ku dengan Edgar sudah
berjalan hampir lima bulan tapi aku tidak cerita hal ini kepada Sia, Ila, dan
Vita. Entah kenapa aku belum siap untuk menceritakan hal ini kepada mereka, dan
Dave benar-benar tidak pernah memberitahu mereka mengenai aku yang selalu
berangkat kuliah bareng Edgar. Sepertinya kedekatan ku dengan Edgar memang cuma
Dave yang tahu, walaupun yang dia tahu cuma sebatas kami pergi dan pulang
kuliah bersama.
Ketika hampir memasuki bulan ke enam
aku dekat dengan Edgar, Edgar menyatakan perasaannya padaku. Aku gaktau haru
bereaksi seperti apa, karena aku juga sanagat menyukainya apalagi setelah apa
yang sudah terjadi. Akhirnya aku menerima perasaan Edgar, dan kami jadian.
Edgar adalah pacar pertama ku, aku benar-benar menyayanginya karena sikap nya
yang juga sangat lembut dan aku juga sudah menyadari perasaannya sebelum dia
mengungkapkannya kepada ku.
Satu bulan aku pacaran dengan Edgar,
Sia, Ila, dan Vita tidak pernah tau mengenai hal ini. Aku benar-benar tidak
mengerti dengan perasaan ku sendiri, aku masih saja selalu tidak siap untuk
mengatakan ini kepada mereka. Untunglah Edgar setuju ketika aku mengatakan
kalau kami sebaiknya tidak terlalu mengumbar-umbar hubungan kami, cukup hanya
memberi tahu orang-orang terdekat kami saja.
“Chel, ngelamun mulu! Mau makan apa
kamu?” Ila menyadarkan ku dari lamunan.
“Nasi goreng aja deh. Aku toilet
bentar ya.” Aku meninggalkan mereka.
Saat aku kembali dari toilet aku
melihat mereka bertiga memandang kea rah ku, seperti sedang menunggu ku
kembali, dan Sia sedang menggenggam ponsel ku. Aku tersenyum ke arah mereka dan
mempercepat lagkah ku untuk segera mengetahui kenapa mereka melihat ku seperti
itu. Belum sempat aku terduduk, Sia langsung bicara.
“Chel, kamu pacaran sama Edgar?”
Deg! Tubuh ku lemas mendengar pertanyaan Sia barusan.
“Tadi Edgar nge chat nanya pulang
jam berapa, kita terkejut terus langsung buka chatnya. Sorry kalau kami baca
history chat kamu, tapi dari isi chat kalian, kalian kaya orang pacaran.”
Ila langsung menjawab segala
pertanyaan yang terlintas di pikiran ku, aku hanya bisa tertunduk dan tidak
sanggup mau jawab apa. “Gak papa ku kalau emang iya, Cuma yang buat aku
penasaran kenapa kamu gak cerita ke kita?” Tanya Vita. Aku memandang mereka
satu persatu secara bergantian, aku merasa sangat bersalah dan merasa aku
sangat jahat terhadap mereka.
“Sorry aku gak pernah cerita ke
kalian. Aku… Aku gaktau kenapa aku gak cerita ke kalian, setiap aku mau cerita
aku langsung mengurungkan niat. Ada rasa malu, takut yang menghantui ku,
sebenarnya aku juga bingung kenapa aku harus merasa malu dan takut tapi inilah
yang terjadi. Maaf, Cuma itu yang bisa aku sampaikan saat ini. Kalau kalian mau
marah dan merasa aku pembohong dan tidak jujur sama kalian, aku akan terima,
toh ini emang salah ku.”
“Kenapa kami harus marah? Gak ada
salahnya kamu merasa kaya gitu Chel, kamu belum pernah ngerasain pacaran jadi
wajar aja menurut kita kalau kamu ngerasa kaya gitu.” Ila tersenyum.
Seorang Sia ngomong kaya gini aku
merasa benar-benar lega. Kalau yang ngomong Vita mungkin aku gak akan merasa
setenang ini, karena Vita emang yang paling dewasa diantara kita berempat. Tapi
kalau Sia dan Ila yang ngomong, aku jadi benar-benar tersentuh.
“Nah, sekarang buruan kasi tau kami
gimana ceritanya kamu jadian sama si Edgar!!” Sia udah gak sabar untuk
mendengar kisah ku
“Ehm… Ehm… Pada suatu hari…” Aku
akhirnya menceritakan bagaimana hubungan ku dengan Edgar, saat Edgar yang
tiba-tiba ngechat aku, muncul di depan rumah ku, pergi dan pulang bareng ke
kampus, jalan setiap weekend, dan sampai akkhirnya kami jadian. Aku benar-benar
merasa plong ketika akhirnya aku bisa menceritakan semua ini kepada mereka, aku
jadi menyesal kenapa tidak menceritakan pada mereka dari awal. Tapi ya sudahlah
nasi sudah menjadi bubur ayam, ini akan menjadi pelajaran untuk ku agar tidak
menyembunyikan apapun lagi dari ketiga cewek kece-kece tapi agak gila ini.
***
Setahun lima bulan, sudah selama ini
hubungan ku dengan Edgar, dan yang mengetahui hubungan kami benar-benar hanya
orang-orang terdekat kami saja. Teman-teman ku seperti Ila, Sia, Vita, dan Dave,
Dave juga mengetahui hal ini karena Dave juga teman ku kan? Sedangkan sisanya
teman-teman Edgar yang pastinya para cowok-cowok yang akan memutup rapat mulut
mereka karena ini bukan hal yang penting bagi mereka.
Hari ini Edgar mengajak aku ke
rumahnya, katanya mama nya ingin ketemu dengan ku. Aku deg-degan setengah mati,
ini lebih parah dibandingkan di panggil dosen killer untuk jawab pertanyaannya.
Tapi aku tidak mungkin menolak karena ini sebenarnya sudah tiga kali Edgar
mengajak ku untuk ke rumahnya. Begitu turun dari mobil aku dihadapkan dengan
sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil tapi dari
luar terlihat rumah ini benar-benar mewah dan elegan, sebelumnya aku sudah
pernah bilang kan kalau Edgar ini anak prang kaya. Dan satu hal lagi, rumah
Edgar sangat berlawanan arah dari rumah ku dan aku baru mengetahui hal ini
setelah tiga bulan kami jadian. Waktu Edgar ngajak aku ke kampus bareng dengan
alasan rumahnya lewat rumah ku itu hanyalah alasan untuk mengajak ku pergi
bareng.
Aku bertemu dengan mama Edgar, mama
Edgar bisa di bilang masih terlihat muda walaupun sebenarnya sudah banyak
kerutan di wajahnya. Wajahnya terlihat sangat ramah dan penuh kasih sayang,
terlihat juga kalau dia sepertinya sangat menyayangi Edgar. Kami duduk di ruang
tamu, mama Edgar duduk di sofa di depan ku dan kami hanya di batrasi oleh meja
kaca dan Edgar duduk di sebelah ku. Setelah berbasa basi sedikit, tiba-tiba
nada suara mama Edgar seperti berubah dan aku merasa sedikit nyaman saat
memasuki percakapan ini.
“Jadi orangtua kamu Cuma wiraswasta
ya Rachel?”
“I…iya tante”
“Terus, apa motivasi kamu pacaran
sama Edgar? Biar bisa di beliin ini itu sama Edgar!” Deg! Jantung ku rasanya
berhenti berdetak, aku merasa ini
seperti di sinetron-sinetron ketika anak orang kaya pacaran sama pembokat. Dan
kali ini aku adalah pemeran pembokat tersebut.
“Ma! Mama ngomong apa sih?” Edgar
menjawab pernyataan mama nya.
Mama Edgar mengabaikan kata-kata
Edgar dan terus menatap ke arah ku. Aku tidak tau harus berkata apa, jadi aku
hanya menunduk dan wajah ku rasanya sudah sangat panas. “Kalau pacaran sama
Edgar kamu bisa pergi pulang kuliah naik mobil, gak perlu angkutan umum. Kamu
juga bisa jalan-jalan ke mall terus-terusan, dan mungkin Edgar juga akan
belikan kamu bermacam-macam kan.”
Wajah ku semakin panas, air mata ku
sudah ingin membludak rasanya. Aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali,
aku tau Edgar orang kaya tapi aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali
toh selama ini sebelum aku mengenal Edgar aku juga tetap bisa hidup tenang. Aku
bahkan tidak menyangka kalau mama Edgar akan bereaksi seperti ini, ku pikir hal
seperti ini hanya terjadi di sinetron dan drama-drama korea tapi ternyata hal
ini sedang ku hadapi di dunia nyata.
“M, ini udah keterlaluan! Apa-apaan
Mama ngomong kaya gitu ke Rachel.” Edgar bergerak pindah ke samping Mama nya
dan terus berbicara yang sudah tidak bisa ku dengar kan dengan baik lagi. Mama
Edgar masih saja mengabaikannya, dan terus berbicara kepada ku.
“Kenapa diam? Kalau kamu diam aja
berarti benar ya yang Tante sebutin tadi.” Aku benar-benar sudah tidak tahan
lagi. Aku mengangkat kepala ku dan akhirnya mengeluarkan suara ku.
“Iya tante.” Aku melihat Edgar
tersentak. “Dekat dengan Edgar adalah anugrah untuk saya, saya punya tumpangan
gratis yang nyaman dan bisa dapat apapun yang saya mau dari Edgar.”Aku
tersenyum kemudian melanjutkan “Feeling seorang ibu memang selalu benar
mengenai anaknya, Tante benar-benar sayang sekali kepada Edgar ya.”
Aku berdiri “Terima kasih atas waktunya
Tante, maaf kalau saya mengganggu Tante. Dan saya juga minta maaf karena saya
sangat tidak sopan.” Aku membungkukkan badan ku, mengucap kan selamat tinggal
dan kemudian memutar tubuh ku untuk keluar dan segera meninggalkan rumah ini.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang telah ku lakukan, kalau setelah ini Edgar
pun akan membenci ku aku sudah siap untuk menerimanya. Bahkan mungkin akan
lebih baik. Tapi ternyata dugaan ku salah, saat aku sudah sampai halaman rumah
Edgar, Edgar menarik lengan ku dan aku bisa melihat wajah nya yang sudah sangat
merah seperti menahan amarah.
“Apa yang kamu lakukan? Aku tau kamu
gak mungkin kaya gitu, aku tau kamu bukan tipe cewek yang memikirkan harta
Rachel. Kenapa kamu membenarkan semua kata-kata Mamaku!”
Air mata ku akhirnya menetes.
“Darimana kamu tau kalau aku tidak seperti itu Gar? Lagipula Mama mu melakukan
itu karena dia sayang sama kamu, dia takut kalau anaknya akan dimanfaatkan
orang.”
“Satu tahun lebih aku bersama kamu,
kamu pikir itu waktu yang singkat untuk aku tau gimana kamu. Aku memang gak
punya bukti kalau kamu bukan orang seperti itu, kalau kamu memang orang yang
seperti mungkin aku udah mutusin kamu dari jauh-jauh hari. Dan aku gak pernah
merasa kamu memanfaatkan aku, Mama ku cuma belum kenal sama kamu Rachel.
Lagipula kenapa kamu bia runtuh hanya karena kata-kata itu Rachel.”
Aku melapaskan cengkeraman tangan
Edgar sambil berkata “Tapi sebaiknya kita udahan sampai sini aja Gar, masih
banyak cewek yang bisa dampingin kamu dan mungkin bisa menghadapi dan mendapatkan
hati Mama kamu.” Aku melangkah meningglkan halaman rumah Edgar.
“Gak, aku gak pernah mau udahan sama
kamu. Dan kamu mau kemana? Kalau kamu mau pulang, aku antar.”
“Gak perlu Gar, aku bisa pulang
sendiri. Tempat ku angkutan umum, bukan mobil mewah kamu.” Aku gak tau kenapa
aku bisa sebaper ini, aku mendengar Edgar sangat marah dan membanting sesuatu
tapi aku tidak berniat untuk balik badan. Dan lagipula ini berarti kami putus
kan. Air mata ku masih terus mengalir, dan wajah ku terasa sangat panas. Saat
tiba di rumah, aku melihat Dave sedang duduk di depan rumah ku, aku baru ingat
kalau Dave mau datang minjem buku ku untuk mengerjakan tugas. Begitu melihat ku
Dave langsung berlari ke hadapan ku, dia meletakkan kedua tangannya di wajah
ku.
“Kamu kenapa? Edgar mana? Bukannya
kamu pergi bareng Edgar?”
“Kamu mau pinjem buku kan? Bentar ya
Dave aku ambil dulu ke dalam, kamu juga masuk dulu ke dalam yuk kamu pasti
capek ya nunggu aku di situ. Maaf ya Dave aku pulang kelamaan.” Aku mengabaikan
pertanyaan Dave, dan ingin berjalan menuju pintu rumah. Saat aku mulai
bergerak, Dave langsung memeluk tubuh ku.
“Kenapa? Kamu ada masalah sama
Edgar? Cerita aja ke aku, aku bakalan dengerin kamu.” Air mata ku mengalir lagi
dan membasahi baju Dave, tapi ini benar-benar terasa nyaman. Dave diam saja dan
tetap memeluk erat tubuh ku ketika aku akhirnya mengeluarkan tangisan yang
sudah ku tahan daritadi. Dave benar-benar sahabat terbaik ku. Dave mengajakku
masuk ke rumah, dan akhirnya aku menceritakan semuanya kepada Dave. Aku gaktau
apa yang akan terjadi kalau hari ini tidak ada Dave di sisi ku, aku benar-benar
sangat berterimakasih kepadanya.
***
5
Tahun Kemudian
Sudah lima tahun berlalu sejak hari
itu, hari dimana aku emmberinya julukan hari terburuk selama hidupku. Aku sudah
menyelesaikan kuliah ku dan sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan ternama,
walaupun pangkat ku belum tinggi-tinggi banget tapi aku sudah bisa memenuhi
kebutuhan ku dan bahkan membantu kedua orangtua ku juga. Aku masih dekat dengan
tiga teman-teman ku, Ila, Sia, dan Vita. Sia dan Ila sudah menikah dan bahkan
punya anak, aku dan Vita masih merasa sendiri lebih menyenangkan karena tidak
banyak beban yang harus kami tanggung. Vita melanjutkan bisnis keluarganya dan
sangat sukses sekarang, walaupun kami sudah tidak bisa selalu bersama syukurnya
kami masih sering berkumpul bersama minimal dua minggu sekali lah.
Dave? Dave emang dasarnya punya perusahaan
yang pasti akan di wariskan kepadanya, jadi saat ini dia sibuk dengan
perusahaannya. Dave masih sering menghubungi ku dan mengajak main bersama Ila,
Sia, dan Vita. Sejak hari itu, aku jadi semakin dekat dengan Dave dan kami jadi
semakin sering menghabiskan waktu bersama. Tapi ini benar-benar masih dalam
batas pertemanan, karena bagiku Dave memang teman yang sangat menyenangkan sama
seperti ketika aku bersama tiga ciwi-ciwi rempong itu. Dave juga menganggap ku
seperti itu, aku masih merupakan teman terbaiknya apalagi sejak hari itu. Sejak
hari itu, Dave lah yang paling banyak membantu ku keluar dari rasa terpuruk ku
dan membantu ku untuk tidak mengingat-mengingat hal itu lagi. Ah iya, akhirnya
Dave sekarang punya pacar. Meskipun banyak cewek yang suka sama dia, Dave
sering sekali mengabaikan mereka karena alasan gak mau ganggu kuliah, dan benar
saja setelah lulus kuliah dia langsung punya pacar yang menurut ku sudah di
sukainya sejak lama.
Aku sendiri sejak hari itu tidak
pernah memulai hubungan dengan siapa-siapa lagi, jangan kan untuk pacaran untuk
sekedar dekat pun tidak pernah. Aku masih merasa kecewa, dan sebenarnya aku
masih sangat menyayangi Edgar bahkan sampai saat ini. Putusnya hubungan kami
bukan karena ada maslaah diantara kami, jadi terkadang aku masih berharap bisa
kembali lagi bersama Edgar walaupun hal itu sangat tidak mungkin terjadi
sepertinya. Sebenarnya Edgar sudah menjelaskan berulang kali kepada ku dan
meminta untuk kembali, tapi aku masih belum siap untuk semua ini dan memilih untuk
tidak melanjutkan lagi hubungan kami. Sejak berakhirnya hubungan kami jangan
tanya Edgar, dia sudah berulang kali berganti-ganti pacar, dan sebenarnya hal
ini sangat memukul ku karena ku pikir Edgar masih menyayangi ku seperti aku
yang masih sanagat mengharapkannya tapi sepertinya aku hanya bisa menerima
kenyataan.
“Daffa mana sih? Kemaren katanya mau
datang, tapi udah hampir satu jam dia belum datang-datang juga.” Ila mengeluh
karena Dave tidak juga kunjung datang.
“Aku lapar tolong seseorang hubungi
Daffa dan suruh dia cepat ke sini.” Sia juag sudah mengomel.
“Sabar dong, kalian kan tau sendiri
Daffa sibuk. Konsekuensi kita dong harus ngajak orang sibuk itu ngumpul padahal
dia udah bilang kalau dia gak bisa datang tepat waktu.”
“Ah, itu Dave.” Belum kering bibir
Vita ceramah, Dave sudah muncul di pintu café masih dengan pakaian kerjanya.
Dave duduk di bangku kosong di sebelah Vita dan senyum-senyum gak jelas, yang
kami semua pahami dia merasa bersalah karena telat terlalu lama. Kami pun
akhirnya memanggil pelayam café yang daritadi udah bosan melihat kami duduk di
sini tapi gak mesan-mesan makanan juga. Setelah selesai memesan makanan, Sia
mengeluarkan ponselnya dan melihat sesuatu di ponselnya yang sama membuatnya
hampir teriak sekencang-kencangnya.
“Guys, angkatan kita mau ngajak
ngumpul di café Y minggu depan, ikut yuk. Aku pengen ketemuan sama mereka
lagi.” Celetuk Sia.
“Boleh yuk.” Aku, Vita dan Ila
menjawab dengan semangat.
“Jam berapa?” Mr. Busy satu ini
langsung menanyakan waktu.
“Malam kok daf, bisa lah kamu datang
kan kamu udah pulang kerja.” Sia menjawab
“Oke, setuju.”
Aku baru turun dari mobil Vita
ketika aku melihat Edgar berdiri di depan rumah ku. Mata ku membelalak melihat
siapa yang sedang berdiri di sana, dan masih berusaha meyakinkan kalau itu
benar-benar Edgar. Begitu melihat ku, Edgar langsung menghampiri ku dan memeluk
ku. Aku terkejut, sangat terkejut sampai aku tidak tau harus berbuat apa. Aku
hanya mematung dan tidak melakukan apa-apa di dalam pelukan Edgar, dan sebenarnya
aku merindukan pelukan ini.
“Aku kangen sama kamu Chel, aku gak
tahan harus terus begini.” Ingin rasanya aku mengatakan kalau aku juga
merindukannya tapi bibir ku tidak sanggup bergerak, dan hati ku juga seperti
menyuruhku untuk tidak mengucapkannya. Edgar melepaskan pelukannya.
“Aku masih sangat sayang sama kamu
Chel, selama ini aku gonta-ganti pacar untuk bisa melupakan kamu tapi ternyata
aku tetap tidak bisa melupakan kamu. Kamu masih terus terlintas di pikiran ku,
kenangan-kenangan ku sama kamu gak pernah bisa aku lupakan.”
Air mata ku menetes tanpa ku sadari.
“Kemarin aku bicara sama Mama ku
mengenai kamu, karena aku udah gak tahan Chel aku gak tahan harus terus
jauh-jauhan sama kaya gini. Aku perang besar sama Mama kemarin, aku ceritakan
semua nya tentang kamu. Dan kamu tau” Edgar meletakkan kedua telapak tangannya
di pipiku. “Mama ku akhirnya menerima kamu Chel, dia merestui kita.” Edgar
tersenyum lebar.
“Se..rius?” Akhirnya aku berhasil mengeluarkan
sesuatu dari bibirku. Dan air mataku mengalir sederas-derasnya. Edgar memelukku
kembali sambil mengatakan “Serius, sangat serius. Besok malam aku sama keluarga
mau ngelamar kamu, kamu mau kan nikah sama aku?”
Ku lepaskan pelukan Edgar, dan
kutatap matanya untuk melihat apakah ada kebohongan di matanya. Tapi yang
ketemukan hanya ketulusan, dia benar-benar tulus mengatakan ini. Aku kembali
memeluk Edgar.
“Aku mau Gar, selama ini aku
berharap aku bisa kembali sama kamu. Tapi aku pikir itu hal yang mustahil,
karena aku juga sering melihat mu gonta ganti pacar.” Aku benar-benar tidak
berniat jual mahal kali ini, aku sangat menyayangi Edgar dan aku sudah lama
mengharapkan hal ini terjadi. Edgar mengecup lembut kepala ku setelah aku
selesai bicara.
Esok malamnya, keluarga Edgar benar
datang untuk melamarku. Mama dan Papanya datang ke rumah ku. Mama Edgar meminta
maaf pada ku atas apa yang telah terjadi dulu, dan sekarang dia terlihat
seperti menganggapn aku anak kandungnya. Aku dan Edgar benar-benar akan
menikah, tapi kami belum menentukan kapan. Yang pasti kami akan menikah pada
tahun ini. Sekarang kami punya couple ring, dan aku sangat suka melihat cincin
ini. Aku seperti melihat Edgar setiap melihat cincin itu terlingkar di jariku.
Kami sengaja merahasiakan hal ini dari teman-teman kami, dan kami berencana
untuk mengumumkan hal ini saat kumpul angkatan minggu depan. Aku tidak sabar
melihat ekspresi Sia, Ila, Vita, dan Dave.
***
Daffa
POV
Aku sedang
berjalan sendirian di mall, dan aku melihat sebuah toko perhiasan. Entah apa
yang membawa kakiku melangkah masuk ke toko ini, dan aku melihat banyak cincin
yang indah. Aku berpikir apa aku beli saja cincin ini. Tapi untuk apa? Wajah
Rachel muncul di kepala ku, aku memang sangat menyukainya bahkan jauh sebelum Rachel dekat dengan
Edgar. Aku pacaran dengan orang lain hanya untuk membuat Rachel merasa nyaman
berteman dengan ku, tapi pun sekarang aku sudah putus dengan pacar ku karena
aku memang tidak menyayanginya dan selalu memikirkan Rachel. Akhirnya ku
putuskan untuk membeli satu buah cincin, dan akan melamarnya pada saat kumpul
angkatan nanti. Aku akan mengungkapkan apa yang telah ku pendam selama ini
kepada Rachel, dan mengajaknya untuk menikah.
“Mbak, boleh lihat yang ini.”
“Silahkan mas.” Dia memberikan
cincin itu kepadaku.
“Saya ambil yang ini mbak.”
***
Rachel
POV
Akhirnya malam
ini tiba, aku tidak sabar akan berkumpul dengan teman-teman kuliah ku lagi.
Belum selesai aku bersiap, suara mobil Edgar sudah terdengar di depan rumahku.
Aku buru-buru menyiapkan barang-barang ku dan langsung berlari keluar menemui
Edgar, kasian dia kelamaan nunggu. Aku turun dari mobil Edgar setelah melihat
sekeliling, berjaga-jaga manatau ada yang melihatku turun dari mobil Edgar.
Kamu masuk ke café secara terpisah, dan ketika aku masuk aku melihat Ila, Sia,
Vita dan bahkan Dave sudah di sana. Aku langsung berlari menemui mereka dan
ikut mengobrol dengan teman-teman yang lain.
Ketika aku lagi ngobrol sama
teman-teman ku dan juga beberapa teman Edgar, Edgar datang dan begabung bersama
kami. Sia, Ila, dan Vita langsung melihat ke arah ku, aku tau apa yang mereka
pikirkan dan aku hanya tersenyum ke arah mereka.
“Perhatian bentar dong, aku mau
ngomong sesuatu.” Edgar angkat bicara, dan aku tau apa tujuan Edgar. Edgar
menarik ku dan menunjukkan jari ku kepada mereka semua. “Kami akan menikah.”
Edgar tersenyum sangat lebar, aku pun ikut tersenyum tapi aku langsung
menundukkan kepala ku karena merasa sangat malu. Teman-teman ku langsung
memelukku dan terus bertanya benarkah yang di katakana Edgar, dan yang bisa
kulakukan hanya mengiyakannya karena memang inilah kenyataannya. Aku sempat
melihat ke arah Edgar, dan teman-temannya pun sibuk memberikan selamat
kepadanya. Sia, Ila, dan Vita terlihat sangat bahagia dengan kabar yang baru
mereka dengar, aku memeluk mereka kembali dan mengucapkan banyak terimakasih
atas apa yang telah mereka lakukan kepada ku selama ini. Mereka pun tak henti-hentinya
mengucapkan selamat kepadaku.
“Dave mana?” Aku baru menyadari
kalau aku tidak melihat Dave daritadi. Padahal aku merasa melihat Dave saat
Edgar bicara tadi.
“Loh, mana ya? Tadi di sini kok,
toilet kali ya.” Vita menjawab pertanyaan ku.
“Aku cari Dave dulu ya.” Aku
meninggalkan mereka dan mencari Dave. Aku ingin memastikan Dave mendengar kabar
ini, dan menjelaskan apa yang telah terjadi sampai aku dan Edgar mau menikah
begini. Dave adalah orang yang paling tau mengenai hubungan ku dengan Edgar,
dan dia juga lah orang yang selalu berada di sisiku ketika aku kehilangan
Edgar. Aku tidak mau jadi teman yang hanya bersamanya ketika aku sedang ada
masalah, ketika sedang bahagia pun aku ingin Dave ada di sisiku turut merasakan
kebahagiaan yang sedang ku rasakan. Dari jauh aku melihat Dave baru keluar dari
toilet, ternyata benar dia tadi ke toilet.
“Dave, aku daritadi cariin kamu.”
“Sorry, aku tadi kebelet jadi
langsung lari ke toilet hehe.” Dave mengusap kepala ku.
“Kamu dengar yang di bilang Edgar
tadi kan Dave?”
“Dengar dong, congrats ya!”
“Makasih ya Dave, kamu terus nemenin
aku selama ini. Dengerin semua keluh kesah ku.”
“Kamu gak perlu berterimakasih, itu
emang tugas teman kan?” Edgar mengedipkan sebelah matanya. Aku memeluk Dave dan
Dave membalas pelukan ku lembut. Aku benar-benar senang saat ini, aku akhirnya
akan menikah sama Edgar dan aku punya Sia, Ila, Vita, dan Dave di sisiku. Yang
selalu mendukung ku dan mmeberi semangat kepada ku. ini benar-benar malam yang
indah.
***
Dave POV
“Kami akan menikah.” Kata-kata itu,
wajah Rachel dan Edgar, suasana di café, masih terus terbayang di kepala ku.
Aku ingin marah, tapi aku tidak punya hak untuk marah dan tidak ada juga alasan
ku untuk marah. Seharusnya aku senang, seharusnya aku bahagia melihat Rachel
akhirnya bisa bersama Edgar. Aku merogoh saku ku dan mengeluarkan kotak cincin
yang seharusnya ku berikan kepada Rachel malam ini, aku membaringkan tubuh ku
di atas kasur sambil memegang cincin ini. Untung saja aku belum sempat
memberikan cincin ini dan mengungkapkan perasaan ku pada Rachel, dan sebaiknya
Rachel tidak perlu tahu semua ini. Cincin ini akan terus ku simpan, dan akan
menjadi saksi bisu akan perasaan ku pada Rachel.
-END-
Ini tulisan pertama saya yang saya publikasikan, maaf kalau sangat banyak kekurangan dan garing. Kritik dan saran boleh ditinggalin di comment ^^
Terimakasih sudah membaca




Lanjut chapter 2 la..
BalasHapusRachel dan dave selingkuh wkwk